Tuesday, October 20, 2015

KISAH INDAH YANG PENUH KESABARAN : Abu Qilabah

Abu Ibrahim bercerita:

Suatu ketika, aku jalan-jalan di padang pasir dan tersesat tidak bisa pulang. Di sana kutemukan sebuah kemah lawas… kuperhatikan kemah tersebut, dan ternyata di dalamnya ada seorang tua yg duduk di atas tanah dengan sangat tenang…

Ternyata orang ini kedua tangannya buntung… matanya buta… dan sebatang kara tanpa sanak saudara. Kulihat bibirnya komat-kamit mengucapkan beberapa kalimat..
Aku mendekat untuk mendengar ucapannya, dan ternyata ia mengulang-ulang kalimat berikut:
الحَمْدُ لله الَّذِي فَضَّلَنِي عَلَى كَثِيْرٍ مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيْلاً .. الحَمْدُ للهِ الَّذِي فَضَّلَنِي عَلَى كَثِيْرٍ مِمَّنْ خَلَق تَفْضِيْلاً ..
Segala puji bagi Allah yg melebihkanku di atas banyak manusia… Segala puji bagi Allah yg melebihkanku di atas banyak manusia…
Aku heran mendengar ucapannya, lalu kuperhatikan keadaannya lebih jauh… ternyata sebagian besar panca inderanya tak berfungsi… kedua tangannya buntung… matanya buta… dan ia tidak memiliki apa-apa bagi dirinya…
Kuperhatikan kondisinya sambil mencari adakah ia memiliki anak yg mengurusinya? atau isteri yang menemaninya? ternyata tak ada seorang pun…
Aku beranjak mendekatinya, dan ia merasakan kehadiranku… ia lalu bertanya: “Siapa? siapa?”
“Assalaamu’alaikum… aku seorang yang tersesat dan mendapatkan kemah ini” jawabku, “Tapi kamu sendiri siapa?” Tanyaku.
“Mengapa kau tinggal seorang diri di tempat ini? Di mana isterimu, anakmu, dan kerabatmu? Lanjutku.
“Aku seorang yang sakit… semua orang meninggalkanku, dan kebanyakan keluargaku telah meninggal…” Jawabnya.
“Namun kudengar kau mengulang-ulang perkataan: “Segala puji bagi Allah yg melebihkanku di atas banyak manusia…!! Demi Allah, apa kelebihan yang diberikan-Nya kepadamu, sedangkan engkau buta, faqir, buntung kedua tangannya, dan sebatang kara…?!?” Ucapku.
“Aku akan menceritakannya kepadamu… tapi aku punya satu permintaan kepadamu, maukah kamu mengabulkannya?” Tanyanya.
“Jawab dulu pertanyaanku, baru aku akan mengabulkan permintaanmu.” Kataku.
“Engkau telah melihat sendiri betapa banyak cobaan Allah atasku, akan tetapi segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas banyak manusia… bukankah Allah memberiku akal sehat, yang dengannya aku bisa memahami dan berfikir…?
“Betul.” jawabku. Lalu katanya, “Berapa banyak orang yang gila?”
“Banyak juga.” jawabku. “Maka segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas banyak manusia.” Jawabnya.
“Bukankah Allah memberiku pendengaran, yang dengannya aku bisa mendengar adzan, memahami ucapan, dan mengetahui apa yang terjadi di sekelilingku?” tanyanya.
“Iya benar.” Jawabku. “Maka segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas orang banyak tersebut.” Jawabnya.
“Betapa banyak orang yang tuli tak mendengar…?” Katanya.
“Banyak juga…” Jawabku. “Maka segala puji bagi Allah yg melebihkanku di atas orang banyak tersebut.” Katanya.
“Bukankah Allah memberiku lisan yg dengannya aku bisa berdzikir dan menjelaskan keinginanku?” Tanyanya.
“Iya benar” jawabku. “Lantas berapa banyak orang yg bisu tidak bisa bicara?” Tanyanya.
“Wah, banyak itu.” Jawabku. “Maka segala puji bagi Allah yg melebihkanku di atas orang banyak tersebut.”  Jawabnya.
“Bukankah Allah telah menjadikanku seorang muslim yang menyembah-Nya… mengharap pahala dari-Nya… dan bersabar atas musibahku?” Tanyanya.
“Iya benar.” Jawabku. Lalu katanya, “Padahal berapa banyak orang yg menyembah berhala, salib, dan sebagainya dan mereka juga sakit? Mereka merugi di dunia dan akhirat…!!”
“Banyak sekali.” Jawabku. “Maka segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas orang banyak tersebut.” Katanya.
Pak tua terus menyebut kenikmatan Allah atas dirinya satu-persatu… dan aku semakin takjub dengan kekuatan imannya. Ia begitu mantap keyakinannya dan begitu rela terhadap pemberian Allah…
Betapa banyak pesakitan selain beliau, yg musibahnya tidak sampai seperempat dari musibah beliau… mereka ada yg lumpuh, ada yg kehilangan penglihatan dan pendengaran, ada juga yg kehilangan organ tubuhnya… tapi bila dibandingkan dengan orang ini, maka mereka tergolong ‘sehat’. Pun demikian, mereka meronta-ronta, mengeluh, dan menangis sejadi-jadinya… mereka amat tidak sabar dan tipis keimanannya terhadap balasan Allah atas musibah yg menimpa mereka, padahal pahala tersebut demikian besar…
Aku pun menyelami fikiranku makin jauh… hingga akhirnya khayalanku terputus saat pak tua mengatakan:
“Hmmm, bolehkah kusebutkan permintaanku sekarang… maukah kamu mengabulkannya?”
“Iya.. apa permintaanmu?” Kataku.
Maka ia menundukkan kepalanya sejenak seraya menahan tangis.. ia berkata: “Tidak ada lagi yang tersisa dari keluargaku melainkan seorang bocah berumur 14 tahun… dia lah yang memberiku makan dan minum, serta mewudhukan aku dan mengurusi segala keperluanku… sejak tadi malam ia keluar mencari makanan untukku dan belum kembali hingga kini. Aku tak tahu apakah ia masih hidup dan diharapkan kepulangannya, ataukah telah tiada dan kulupakan saja… dan kamu tahu sendiri keadaanku yang tua renta dan buta, yang tidak bisa mencarinya…”
Maka kutanya ciri-ciri anak tersebut dan ia menyebutkannya, maka aku berjanji akan mencarikan bocah tersebut untuknya…
Aku pun meninggalkannya dan tak tahu bagaimana mencari bocah tersebut… aku tak tahu harus memulai dari arah mana…
Namun tatkala aku berjalan dan bertanya-tanya kepada orang sekitar tentang si bocah, nampaklah olehku dari kejauhan sebuah bukit kecil yang tak jauh letaknya dari kemah si pak tua.
Di atas bukit tersebut ada sekawanan burung gagak yg mengerumuni sesuatu… maka segeralah terbetik di benakku bahwa burung tersebut tidak lah berkerumun kecuali pada bangkai, atau sisa makanan.
Aku pun mendaki bukit tersebut dan mendatangi kawanan gagak tadi hingga mereka berhamburan terbang.
Tatkala kudatangi lokasi tersebut, ternyata si bocah telah tewas dengan badan terpotong-potong… rupanya seekor serigala telah menerkamnya dan memakan sebagian dari tubuhnya, lalu meninggalkan sisanya untuk burung-burung…
Aku lebih sedih memikirkan nasib pak tua dari pada nasib si bocah…
Aku pun turun dari bukit… dan melangkahkan kakiku dengan berat menahan kesedihan yang mendalam…
Haruskah kutinggalkan pak Tua menghadapi nasibnya sendirian… ataukah kudatangi dia dan kukabarkan nasib anaknya kepadanya?
Aku berjalan menujuk kemah pak Tua… aku bingung harus mengatakan apa dan mulai dari mana?
Lalu terlintaslah di benakku akan kisah Nabi Ayyub ‘alaihissalaam… maka kutemui pak Tua itu dan ia masih dalam kondisi yang memprihatinkan seperti saat kutinggalkan. Kuucapkan salam kepadanya, dan pak Tua yang malang ini demikian rindu ingin melihat anaknya… ia mendahuluiku dengan bertanya: “Di mana si bocah?”
Namun kataku, “Jawablah terlebih dahulu… siapakah yang lebih dicintai Allah: engkau atau Ayyub ‘alaihissalaam?”
“Tentu Ayyub ‘alaihissalaam lebih dicintai Allah” jawabnya.
“Lantas siapakah di antara kalian yg lebih berat ujiannya?” tanyaku kembali.
“Tentu Ayyub…” jawabnya.
“Kalau begitu, berharaplah pahala dari Allah karena aku mendapati anakmu telah tewas di lereng gunung… ia diterkam oleh serigala dan dikoyak-koyak tubuhnya…” jawabku.
Maka pak Tua pun tersedak-sedak seraya berkata, “Laa ilaaha illallaaah…” dan aku berusaha meringankan musibahnya dan menyabarkannya… namun sedakannya semakin keras hingga aku mulai menalqinkan kalimat syahadat kepadanya… hingga akhirnya ia meninggal dunia.
Ia wafat di hadapanku, lalu kututupi jasadnya dengan selimut yg ada di bawahnya… lalu aku keluar untuk mencari orang yang membantuku mengurus jenazahnya…
Maka kudapati ada tiga orang yg mengendarai unta mereka… nampaknya mereka adalah para musafir, maka kupanggil mereka dan mereka datang menghampiriku…
Kukatakan, “Maukah kalian menerima pahala yang Allah giring kepada kalian? Di sini ada seorang muslim yang wafat dan dia tidak punya siapa-siapa yg mengurusinya… maukah kalian menolongku memandikan, mengafani dan menguburkannya?”
“Iya..” Jawab mereka.
Mereka pun masuk ke dalam kemah menghampiri mayat pak Tua untuk memindahkannya… namun ketika mereka menyingkap wajahnya, mereka saling berteriak, “Abu Qilabah… Abu Qilabah…!!”
Ternyata Abu Qilabah adalah salah seorang ulama mereka, akan tetapi waktu silih berganti dan ia dirundung berbagai musibah hingga menyendiri dari masyarakat dalam sebuah kemah lusuh…
Kami pun menunaikan kewajiban kami atasnya dan menguburkannya, kemudian aku kembali bersama mereka ke Madinah…
Malamnya aku bermimpi melihat Abu Qilabah dengan penampilan indah… ia mengenakan gamis putih dengan badan yang sempurna… ia berjalan-jalan di tanah yang hijau… maka aku bertanya kepadanya:
“Hai Abu Qilabah… apa yg menjadikanmu seperti yang kulihat ini?”
Maka jawabnya: “Allah telah memasukkanku ke dalam Jannah, dan dikatakan kepadaku di dalamnya:
( سلام عليكم بما صبرتم فنعم عقبى الدار )
Salam sejahtera atasmu sebagai balasan atas kesabaranmu… maka (inilah Surga) sebaik-baik tempat kembali
Kisah ini diriwayatkan oleh Al Imam Ibnu Hibban dalam kitabnya: “Ats Tsiqaat” dengan penyesuaian.
Diterjemahkan oleh Abu Hudzaifah Al Atsary dari kitab: ‘Aasyiqun fi Ghurfatil ‘amaliyyaat, oleh Syaikh Muh. Al Arify.

ORANG YANG SHOLEH DAN BERTAKWA SERTA BERHATI-HATI

Kisah ‘Atha’ bin Yasar

Suatu ketika ‘Atha bin Yasar dan Sulaiman bin Yasar keluar dari kota Madinah untuk menunaikan ibadah Haji bersama sahabat-sahabat mereka. Sehingga ketika mereka telah berada di ‘Abwa mereka singgah ditempat persinggahan mereka. Sulaiman bin Yasar dan para sahabatnya pergi untuk memnuhi kebutuhan mereka, dan tinggallah ‘Atha’ sendirian melaksanakan shalat. Ketika itu masuklah ke tempat persinggahan ‘Atha’ seorang wanita Arab yang cantik. Ketika ‘Atha’ merasakan kehadiran wanita itu, ‘Atha’ mengira bahwa wanita itu punya keperluan, maka ‘Atha’ pun memperingan shalatnya.
Ketika ‘Atha’ telah selesai shalat, ‘Atha’ bertanya kepada wanita itu :
“Apakah engkau punya keperluan”
Wanita itu menjawab :
“Ya”
‘Atha’ bertanya lagi :
“Apa keperluanmu itu ?”
Wanita itu berkata :
“Berdirilah, lalu curahkanlah kasih sayangmu kepadaku ! sesungguhnya aku seorang wanita yangtelah menyukai laki-laki dan saya tidak punya suami”.
‘Atha’ berkata :
“Menjauhlah engkau dariku ! Janganlah engkau membakar aku dan dirimu dengan api neraka !”
Lalu wanita itu berusaha merayu dan menggoda ‘Atha’ dan tetap bersiteguh untuk memenuhi apa yang diinginkannya. Maka mulailah ‘Atha’ menangis seraya berkata :
“Menjauhlah engkau dariku ! Menjauhlah engkau dariku !”
Tangisan ‘Atha’ makin lama makin keras. Ketika wanita cantik itu melihat ‘Atha’ dan melihat tangisan serta kecemasan yang menimpa ‘Atha’, menangislah wanita itu mengiringi tangisan ‘Atha’. Di saat ‘Atha dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba Sulaiman bin Yasar pulang memenuhi keperluannya.
Ketika Sulaiman melihat ‘Atha’ sedang menangis, dan seorang wanita dihadapannya sedang menangis disudut rumah, Sulaiman pun menangis mengikuti tangisan keduanya padahal Sulaiman tidak tahu apa yang menyebabkan keduanya menangis.
Setelah itu datanglah sahabat-sahabat ‘Atha’ dan Sulaiman satu persatu. setiap kali seorang sahabat itu datang ke tempat persinggahan mereka lalu melihat mereka sedang menangis, maka sahabat itu pun duduk sambil menangis karena mendengar tangisan mereka tanpa menanyakan tentang urusan mereka, sehingga tangisan pun meluas dan suara tangisan terdengar keras.
Ketika wanita Arab itu menyaksikan keadaan seperti itu, ia pun berdiri lalu pergi keluar dan berdirilah para sahabat ‘Atha’ lalu masuk ke dalam.  Sulaiman terdiam setelah itu dan dia tidak menanyakan apa-apa kepada saudaranya (‘Atha’) tentang kisah wanita itu karena merasa hormat dan segan.
Kemudian keduanya datang ke Mesir untuk memenuhi sebagian kebutuhan mereka. Keduanya tinggal di Mesir sepanjang waktu selama waktu yang dikehendaki oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Pada suatu malam ‘Atha terbangun dalam keadaan menangis. Sulaiman bertanya kepadanya,
“Apa yang membuatmu menangis, wahai saudaraku?”
Berkata ‘Atha,
“Aku telah bermimpi tadi malam.”
Sulaiman berkata,
“(Mimpi) apakah itu?”
Berkata ‘Atha,
“Syaratnya, jangan engkau ceritakan mimpi ini kepada siapapun selama aku masih hidup.”
Berkata Sulaiman,
“Akan kupenuhi syaratmu.”
Berkata ‘Atha,
“Aku melihat Nabi Yusuf ‘alaihissalaam di dalam mimpi. Maka aku pun mendatangi beliau untuk melihatnya, maka aku (kagum) melihat ketampanan beliau maka aku pun menangis. Maka beliau melihatku di tengah kerumunan orang banyak lalu beliau berkata, ‘Mengapa engkau menangis wahai laki-laki?”
Aku (‘Atha) berkata,
“Ayah dan ibuku sebagai tebusanmu wahai Nabiyallaah. Aku teringat (kisah) engkau dengan istri Al-Aziz dan ujian yang menimpa anda dari perkara wanita tersebut. Dan apa yang anda jumpai di penjara. Dan perpisahanmu dengan ayahanda Ya’qub yang sudah berusia lanjut. Aku menangis karena mengingat akan hal itu dan itulah yang membuatku kagum.”
Berkata Nabi Yusuf ‘alaihissalaam,
“Mengapa engkau tidak kagum terhadap pemilik (kisah dengan) seorang wanita badui di ‘Abwa?” Aku mengerti maksud beliau (Nabi Yusuf ‘alaihissalaam). Oleh sebab itu aku menangis dan terbangun dalam keadaan menangis.
Berkata Sulaiman,
“Wahai saudaraku, apakah yang sebenarnya terjadi antara engkau dengan wanita itu?”
Maka ‘Atha pun menceritakan kisahnya dengan wanita itu, kisah itu pun tidak pernah diberitahukan kepada seorangpun sampai ‘Atha wafat. Setelah ‘Atha wafat barulah salah satu dari keluarganya menceritakan kisah itu kepada orang lain.
(kisah ini bisa dilihat pada kitab Al-Atqiyaa wa Fitanun Nisaa)
Tambahan, nama lengkap ‘Atha adalah ‘Atha bin Yasar Al-Hilali Abu Muhammad Al-Madani Al-Qadhi. Seorang mantan budak Maimunah, seorang yang faqih dan banyak meriwayatkan hadits, wafat tahun 103 H dalam usia 84 tahun di Mesir.

KISAH ORANG-ORANG SHOLEH TERDAHULU

Seorang Wali Allah menceritakan, “Satu ketika pada musim yang sangat panas aku pergi haji, tatkala aku tiba di padang pasir Hijaz Tengah, aku telah terpisah dari kafilahku dan tersesat dijalan, aku tertidur. Ketika aku bangun, aku melihat seseorang tidak jauh dari situ, aku berlari kearahnya. Dia adalah seorang yang masih sangat muda yang janggutnyapun belum tumbuh. Dia adalah seorang remaja yang sangat tampan. Ketika aku memberi salam kepadanya, dia menjawab, “Wa’alaikumus salam, wahai Ibrahim.” Ketika Ia menyebut namaku, aku sangat bingung dan heran. Aku pun bertanya kepadanya, “Anak muda yang kuhormati, bagaimana engkau tahu namaku?”
Dia menjawab, “Sejak aku memperoleh Ilmu Allah ( Ma’arifat), aku tidak jahil dan sejak aku bersama-sama dengan-Nya aku tidak pernah meninggalkan-Nya.”
Aku bertanya, “Apa yang menyebabkan kamu kemari dalam keadaan padang pasir sangat panas begini?
Dia menjawab, “Wahai Ibrahim, selain Dia aku tidak mencintai siapapun, tidak pula aku jadikan sebagai kawan dan sahabatku. Sekarang aku sepenuhnya menghadap-Nya dan hanya Dia yang aku pikirkan dan Dialah yang layak untuk disembah.
Aku bertanya, “dari mana datangnya makanan dan minumanmu?”
Dia menjawab, “Kekasihku telah menjaminnya.”
Aku berkata, “Demi Allah, aku takut kebinasaan menimpamu dalam keadaan seperti ini.”
Kemudian matanya digenangi air mata yang nampak bagaikan mutiara tatkala air mata itu membasahi pipinya. Dia berkata, “Siapakah yang dapat menakutkan aku dengan kebinasaan di padang pasir ini maupun mara bahayanya. Sedangkan aku mengembara kesini kearah cintaku  yang pada-Nya terletak keyakinanku? Cintaku kepada-Nya menjadikan aku resah dan kerinduanku telah membuatku berjalan kedepan.’
Siapa yang mencintai Allah, maka Ia tidak akan takut kepada siapapun. Apabila kepedihan lapar benar-benar tiba, aku mengisi diriku dengan dzikir (mengingat-Nya). Dan tatkala aku melagukan puji-pujian-Nya, tidak ada dahaga yang dapat menyentuhku. Dan apabila aku lemah, cinta-Nya akan membawaku dari hijaz ke Khurasan. Jadi janganlah menuduh atas kemudaanku, karena apa yang akan terjadi telah datang.”
Aku bertanya, “Demi Allah, berapakah usiamu yang sebenarnya?”
Dia menjawab, “Sesungguhnya anda telah diberi janji oleh seseorang yang sesungguhnya orang tersebut sangat tinggi kedudukannya dalam pandanganku. Usiaku dua belas tahun. Wahai Ibrahim, mengapa anda bertanya tentang usiaku?”
Aku menjawab, “aku bertanya demikian, karena kata-katamu sungguh menakjubkan dan mempesonakanku.”
Dia berkata, “Segala Puji bagi Allah yang telah mengaruniakan nikmat-nikmat yang besar, dan melalui nikmat-nikmat-Nya yang khusus, dia telah menjadikan sebagian hamba-Nya lebih tinggi derajatnya daripada yang lain.”
Selanjutnya Ibrahim rah.a. berkata, “Kata-kata indah dan penuh hikmah yang diucapkan oleh anak muda yang sangat tampan dan mulia ini sungguh menakjubkan aku.” Aku pun berkata, “Segala puji bagi Allah, betapa indahnya makhluk yang diciptakan-Nya.” Untuk seketika dia menundukkan kepalanya. Kemudian Ia mengangkat wajahnya, lalu memperhatikanku dengan sungguh-sungguh dan membaca rangkaian kalimat berikut ini,
“Jika aku masuk neraka, maka aku akan binasa. Jadi apakah gunanya keceriaan dan keindahanku, kalau nilai-nilai baik zahiriyahku menjadi sebab tinggalnya aku dalam azab dan neraka. Dalam keadaan memekik dan meraung aku akan mendiami neraka. Dan Allah berfirman, ‘Wahai kamu hamba yang sangat buruk! Terhadap-Ku kamu berdosa dan tehadap-Ku kamu menentang.perintah-Ku disia-siakan dan perjanjian-Ku kamu lupakan. Dan begitu juga kamu melupakan pertemuanmu dengan-Ku.”
Dia meneruskan:
“Wahai Ibrahim, kamu akan lihat pada hari itu ketika wajah-wajah orang  yang shaleh akan berseri bersinar seumpama bulan purnama, ketika Allah akan mengangkat dari diri-Nya tirai cahaya. Kemudian orang yang taat akan tertegun kaku di dalam ketakjuban yang tidak ada nikmat yang dapat memberikan kegembiraan pada saat itu. Kemudian barulah Allah menutupi orang-orang yang taat itu dengan kegembiraan, sementara wajah-wajah mereka akan bersinar-sinar penuh kegembiraan.”
Kemudian Dia berkta:
“Sungguh tersingkir dia yang terpisah dari rekan-rekan, dan siapa saja yang beserta Tuhannya sungguh dia beruntung.
Kemudian dia berkata kepadaku, “Wahai Ibrahim, apakah tuan tertinggal di belakang setelah kehilangan sahabat-sahabat sepengembaraan?” aku menjawab, “Ya, aku tertinggal di belakang. Aku mohon engkau berdo’a untukku, supaya aku dapat bertemu kembali dengan kawan-kawanku.”
Dia menghadapkan wajahnya ke langit dan dengan lembutnya membisikkan beberapa kata seolah-olah berdo’a. tiba-tiba aku merasa mengantuk atau pun sesuatu keadaan tidak sadar menguasaiku. Ketika aku kembali membuka mataku, tiba-tiba aku berada diatas untaku berjalan di tengah kawan-kawanku dalam kafilah. Aku mendengar sahabatku berkata kepadaku, “Jaga dan berhati-hatilah supaya kamu tidak jauh dari untamu.” Tidak terdapat tanda-tanda kehadiran anak muda tersebut. Ketika kami memasuki Makkah, aku lihat dia bergantung pada kain ka’bah sambil membaca ungkapan kalimat berikut ini:
“Aku telah datang untuk menziarahi rumah ini dan gembira sekali memegang kain ka’bah.” Tetapi rahasia dan perkataan mendalam yang terdapat dalam hati hanyalah Engkau yang mengetahuinya. Aku datang dengan berjalan kaki, tanpa kendaraan, walaupun didalam kemudaanku aku sedang jatuh cinta. Sejak bayi ketika aku belum mengerti arti inta, namun cintaku kepada-Mu telah melimpah. Dan ketika mereka memarahiku karena cinta itu, maka biarkanlah aku sebagai bayi didalam bercinta, Tuhan ketika maut mengunjungiku, tentukan bahwa aku bersama-Mu.
Kemudian dia turun untuk sujud dengan penuh gembira dan berada dalam keadaan demikian untuk waktu yang sangat panjang  sedangkan aku melihatnya. Setelah beberapa lama aku pergi kepadanya, menggoncang-goncangkan badannya dan dengan terperanjat aku dapati dia telah meninggal dunia.
Ibrahim rah.a. berkata, “Dengan kematiannya aku merasa sangat berduka cita. Aku bergegas ke rumahku untuk mengambil sehelai kain kafan ditemani dua orang pembantu untuk menolongku mengebumikannya. Ketika aku tiba ditempat jenazahnya yang aku tinggalkan, aku tidak menemukan sesuatu pun disitu. Aku bertanya-tanya, tetapi tidak seorang haji pun yang dapat memberitahuku. Akhirnya aku mengetahui bahwa Allah telah menyembunyikan jasadnya dari pandangan manusia. Aku pun kembali kerumah dan ketika aku tertidur, aku bermimpi. Di dalam mimpiku aku melihat dia sedang berada dihadapan kerumunan orang yang sangat banyak. Dia begitu gagah dan tampan berseri-seri seumpama bulan purnama.”
Aku bertanya kepadanya, “Bukankah kamu telah mati?”
Dia menjawab, “Ya, sesungguhnya aku telah mati.”
Aku berkata, “Aku telah mencari mayatmu, supaya aku dapat mengafani dan mengebumikanmu, tetapi aku tidak menemukannya.”
Dia menjawab, “Wahai Ibrahim, aku telah dikafani dan dikebumikan oleh-Nya yang telah membawa keluar dari tempat lahirku, menjadikan aku mencintai-Nya dan memisahkan aku dari keluargaku yang dikasihi. Dan Dia telah menjadikan aku tidak menghendaki pertolongan siapa pun.”
Aku bertanya, “Dan apa yang telah Allah lakukan kepadamu?”
Dia menjawab, “sesungguhnya Allah membawaku kehadapan-Nya dan bertanya apakah yang aku inginkan.”
Aku menjawab, “Engkaulah tujuan pencarianku.” Kemudian Allah berfirman, “Sesungguhnya kamu adalah hamba-Ku yang sejati dan tidak ada sesuatu pun yang dapat menghalangimu dari memperoleh apa yang kamu inginkan. Mintalah! Niscaya Aku berikan kepadamu.” Aku menjawab, “Wahai Allah, aku ingin supaya Engkau menerima syafaatku bagi setiap orang yang hidup pada saat ini.” Allah mengaruniakanku dengan-Nya.”
Ibrahim rah.a. berkata, “Kemudian anak muda ini dala mimpiku meninggalkan aku dan menjabat tanganku hingga aku pun terbangun. Aku menyempurnakan hajiku tetapi tidak dapat melupakan anak muda itu dari pikiranku. Apabila aku mengingatnya, aku sangat gelisah. Dalam keadaan pikiran yang masih demikian, kafilah membawaku pulang ke kampung halamanku. Sepanjang perjalanan, sahabat-sahabatku selalu bertanya kepadaku, “Wahai Ibrahim, kami takjub dan heran dengan bau harum semerbak yang datang dari tanganmu.”
Dikatakan dalam suatu riwayat yang menceritakan kisah ini, bahwa tangan Ibrahim terus harum semerbak hingga meninggalnya. (Raudhur Riyahin)

(Disadur dari buku Fadhilah Haji, karya Maulana Muhammad Zakariyya Alkandhalawi rah.a. ; 2003, 280-284). Sumber foto: net.

Sunday, October 4, 2015

KETAATAN DAN RENDAH HATI YANG DIMILIKI IMAM ABU HANIFAH

Abu Hanifah Yang Taat

Akibat menolak diangkat menjadi hakim, Abu Hanifah ditangkap. Ulama ahli hukum Islam itu pun di penjara. Sang penguasa rupanya marah besar hingga menjatuhkan hukuman yang berat.
Dalam penjara, ulama besar itu setiap hari mendapat siksaan dan pukulan. Abu Hanifah sedih sekali. Yang membuatnya sedih bukan karena siksaan yang diterimanya, melainkan karena cemas memikirkan ibunya. Beliau sedih kerena kehilangan waktu untuk berbuat baik kepada ibunya.
Setelah masa hukumannya berakhir, Abu Hanifah dibebaskan. Ia bersyukur dapat bersama ibunya kembali.
“Ibu, bagaimana keadaanmu selama aku tidak ada?” tanya Abu Hanifah.
“Alhamdulillah……ibu baik-baik saja,” jawab ibu Abu Hanifah sambil tersenyum.
Abu Hanifah kembali menekuni ilmu agama Islam. Banyak orang yang belajar kepadanya. Akan tetapi, bagi ibu Abu Hanifah ia tetap hanya seorang anak. Ibunya menganggap Abu Hanifah bukan seorang ulama besar. Abu Hanifah sering mendapat teguran. Anak yang taat itu pun tak pernah membantahnya.
Suatu hari, ibunya bertanya tentang wajib dan sahnya shalat. Abu Hanifah lalu memberi jawaban. Ibunya tidak percaya meskipun Abu Hanifah berkata benar.
“Aku tak mau mendengar kata-katamu,” ucap ibu Hanifah. “Aku hanya percaya pada fatwa Zar’ah Al-Qas,” katanya lagi.
Zar’ah Al-Qas adalah ulama yang pernah belajar ilmu hukum Islam kepada Abu Hanifah.” Sekarang juga antarkan aku ke rumahnya,”pinta ibunya.
Mendengar ucapan ibunya, Abu Hanifah tidak kesal sedikit pun. Abu Hanifah mengantar ibunya ke rumah Zar’ah Al-Qas.
“Saudaraku Zar’ah Al-Qas, ibuku meminta fatwa tentang wajib dan sahnya shalat,” kata Abu Hanifah begitu tiba di rumah Zar’ah Al-Qas.
Zar’ah Al-Qas terheran-heran kenapa ibu Abu Hanifah harus jauh-jauh datang ke rumahnya hanya untuk pertanyaan itu? Bukankah Abu Hanifah sendiri seorang ulama? Sudah pasti putranya itu dapat menjawab dengan mudah.
“Tuan, Anda kan seorang ulama besar? kenapa Anda harus datang padaku?” tanya Zar’ah Al-Qas.
“Ibuku hanya mau mendengar fatwa dari anda,” sahut Abu Hanifah.
Zar’ah tersenyum,” baiklah, kalau begitu jawabanku sama dengan fatwa putra anda,” kata Zar’ah Al-Qas akhirnya.
“Ucapkanlah fatwamu,” kata Abu Hanifah tegas.
Lalu Zar’ah Al-Qas pun memberikan fatwa. Bunyinya sama persis dengan apa yang telah diucapkan oleh Abu Hanifah. Ibu Abu Hanifah bernafas lega.
“Aku percaya kalau kau yang mengatakannya,” kata ibu Abu Hanifah puas. Padahal, sebetulnya fatwa dari Zar’ah Al-Qas itu hasil ijtihad (mencari dengan sungguh-sungguh) putranya sendiri, Abu Hanifah.
Dua hari kemudian, ibu Abu Hanifah menyuruh putranya pergi ke majelis Umar bin Zar. Lagi-lagi untuk menanyakan masalah agama. Dengan taat, Abu Hanifah mengikuti perintah ibunya. Padahal, ia sendiri dapat menjawab pertanyaan ibunya dengan mudah.
Umar bin Zar merasa aneh. Hanya untuk mengajukan pertanyaan ibunya, Abu Hanifah datang ke majelisnya.
“Tuan, Andalah ahlinya. Kenapa harus bertanya kepada saya?” kata Umar bin Zar.
Abu Hanifah tetap meminta fatwa Umar bin Zar sesuai permintaan ibunya.
“Yang pasti, hukum membantah orang tua adalah dosa besar,” kata Abu Hanifah.
Umar bin Zar termangu. Ia begitu kagum akan ketaatan Abu Hanifah kepada ibunya.
“Baiklah, kalau begitu apa jawaban atas pertanyaan ibu Anda?”
Abu Hanifah memberikan keterangan yang diperlukan.
“Sekarang, sampaikanlah jawaban itu pada ibu anda. Jangan katakan kalau itu fatwa anda,”ucap Umar bin Zar sambil tersenyum.
Abu Hanifah pulang membawa fatwa Umar bin Zar yang sebetulnya jawabannya sendiri. Ibunya mempercayai apa yang diucapkan Umar bin Zar.
Hal seperti itu terjadi berulang-ulang. Ibunya sering menyuruh Abu Hanifah mendatangi majelis-majelis untuk menanyakan masalah agama. Abu Hanifah selalu menaati perintah ibunya. Ibunya tidak pernah mau mendengar fatwa dari Abu Hanifah meskipun beliau seorang ulama yang sangat pintar.

Friday, May 8, 2015

SEARING KESABARAN BERSAMA KESULITAN ADA KEMUDAHAN YANG PASTI


Kemudahan Hadir Bersama Kesulitan


Kemarin siang saya menerima telepon dari seorang jamaah yang sedang mengalami masalah dengan utangnya. Si bapak ini memiliki banyak hutang di bank terutama dalam bentuk kartu kredit dan kredit tanpa agunan. Dalam pembicaraan telepon tersebut beliau meminta nasehat saya atas penawaran dari pihak bank untuk melakukan penjadwalan ulang utangnya. Saya yang pernah punya pengalaman yang sama langsung menjawab tidak usah diterima. Mengapa? Apakah ada jaminan bahwa kita bisa bayar jika dijadwal ulang? Yang ada kita akan bertambah lama stressnya, karena penjadwalan ulang berarti memperpanjang masa kreditnya, dan itu berarti memperpanjang tekanan pikiran kita untuk memikirkan angsurannya. Saya sarankan untuk ditolak dan bersabar saja, pasti nanti Allah berikan rezeki untuk bisa melunasi.
Yakinlah, Allah pasti punya cara yang lebih baik supaya kita segera bebas dari hutang dan bebas dari riba. Allah sudah menyatakan bahwa bersamaan dengan kesulitan pasti ada kemudahan. Perhatikanlah pak, setiap kali bapak mendapatkan tekanan masalah, di saat itu pula Allah hadirkan sinyal-sinyal jalan keluar. Mungkin bisa berupa prospek bisnis, atau tagihan yang dibayar atau bentuk lain yang menunjukkan masih ada harapan. Sayangnya kita lebih sering fokus pada kesulitan yang sedang kita hadapi bukan pada sinyal harapan yang dihadirkan. Akibatnya sinyal itu seakan tidak ada dan pikiran kita semakin kalut, yang ujung-ujungnya keimanan kita mulai goyah. Tauhid kita mulai rapuh. Kita paksa memori otak kita untuk mencari jalan keluar padahal kita tidak mempunyai kekuatan apa-apa. Kita mulai tidak yakin Allah akan turun tangan untuk menyelesaikan urusan kita. Kita mulai ragu Allah tidak akan mengijabah doa-doa kita. Kita mulai sok keminter dengan menganggap rencana kita lebih baik dari pada rencana Allah. Apa jadinya jika demikian? Pertolongan Allah semakin jauh. Sinyal harapan jadi lenyap berubah menjadi keterpurukan. Tekanan hidup menjadi semakin berat.
Itu semua kesalahan kita, tidak yakin apa yang disampaikan Allah. Jika Allah sudah menyatakan bahwa BERSAMA dengan kesulitan pasti ada kemudahan, bahkan diulang dua kali dalam satu surat pendek Al Insyirah, itu berarti pasti terjadi. Semakin banyak kesulitan datang, semakin banyak pula kemudahan yang dihadirkan. Ubahlah cara pandang kita, maka kita akan menemukan sinyal kemudahan itu.
Berapapun hutang kita, itu kecil di sisi Allah karena hanya Allah Yang Maha Besar. Sabar saja, tetap berikhtiar sesuai aturan Allah jangan sekali-kali melanggar. Urusan hasil itu hak prerogratif Allah. Ikhtiar bukan jalan mendapatkan rezeki tetapi ikhtiar adalah alasan supaya Allah memberi kita rezeki. Selama kita sudah berikhtiar berarti kita sudah memberikan alasan bagi Allah untuk memberikan rezekiNya kepada kita. Tentang bagaimana jalannya, Allah punya cara yang lebih baik dari pada kita. Bisa jadi dari jalan yang kita ikhtiari namun bisa jadi dari jalan lain yang tidak pernah kita pikirkan sebelumnya. Tetap yakin kepada Allah, terus berdoa, perbaiki ibadahnya dan bersabar.
Di akhir pembicaraan si bapak minta saya mendoakannya agar Allah segera memberikan jalan keluar dari masalahnya. Dan saya pun mengaminkannya.
Sore ini HP saya berbunyi lagi. Saya lihat dari si Bapak yang kemarin telepon. Saya pikir ada masalah apa lagi sampai beliau telepon lagi. HP saya angkat. Terdengar suara si bapak ini lebih ceria dibandingkan kemarin. Setelah sedikit berbasa basi, akhirnya beliau bercerita bahwa kemarin setelah menelepon saya dia mendapatkan order catering. Meskipun tidak mempunyai modal beliau terima order tersebut. Mungkin beliau ingat nasehat saya untuk memperhatikan sinyal kemudahan.
Besok beliau harus memenuhi order catering tapi sampai hari ini belum ada uang untuk belanja. Beliau praktekkan nasehat saya. Fokus pada kemudahan dan bersabar. Beliau tidak tergoda untuk minta bantuan ke orang lain, karena lebih banyak kecewanya bila menaruh harapan kepada manusia. Beliau gantungkan harapan hanya pada Allah sang pemilik semesta. Akhirnya keyakinannya membuahkan hasil, doanya diijabah oleh Allah. Selepas sholat ashar dari masjid beliau mendapati istrinya sedang menangis. Beliau bingung dengan keadaan tersebut, ada masalah apa lagi yang menyebabkan istrinya menangis. Beliaupun menanyakan kepada istrinya ada masalah apa. Istrinya pun bercerita bahwa baru saja ada tamu dari kantor almarhum Bapaknya suami yang mengirimkan uang hasil pekerjaan almarhum yang belum sempat dibayarkan. Istrinya menangis karena haru, betapa Allah punya skenario yang tidak terduga untuk menjawab doa mereka. Di saat mereka butuh modal untuk memenuhi order catering dan tidak ada harapan lagi mendapatkan bantuan dari pihak lain, Allah hadirkan modal melalui harta bapaknya yang diantarkan kepadanya sebagai ahli waris. Alhamdulillah.
Subhanallah, sebuah kisah nyata yang mestinya bisa menjadi pelajaran bagi kita. Setiap kali ada kesulitan, Allah pasti siapkan kemudahanNya. Tinggal kita yakin, tetap ikhtiar dalam ketaatan dan bersabar. Allah sudah punya rencana terbaik buat kita. Dan pasti renacan Allah akan terjadi pada kita. Tidak ada kebaikan yang tidak menghasilkan kebaikan. Ketika kita sudah melakukan perubahan diri dengan memperbanyak kebaikan, maka kebaikan dari Allah pasti akan diberikan kepada kita. Kesulitan apapun yang menimpa diri kita bisa jadi kebaikan dari Allah yang tidak kita tahu. Karena dari kesulitan itulah hidayah diberikan kepada kita. Ketika kita menuju hidayah Allah maka pasti kemudahan demi kemudahan akan diberikan.

Wednesday, May 6, 2015

KISAH-KISAH ISLAMI PENUH HIKMAH


 DUA ANAK MEMPEREBUTKAN HAK MERAWAT IBUNYA YANG SUDAH TUA RENTA

Di salah satu pengadilan Qasim, berdiri Hizan al Fuhaidi dengan air mata yang bercucuran sehingga membasahi janggutnya! Kenapa? Karena ia kalah terhadap perseteruannya dengan saudara kandungnya!
Tentang apakah perseteruannya dengan saudaranya? Tentang tanah kah? atau warisan yang mereka saling perebutkan?
Bukan karena itu semua! Ia kalah terhadap saudaranya terkait pemeliharaan ibunya yang sudah tua renta dan bahkan hanya memakai sebuah cincin timah di jarinya yang telah keriput.
Seumur hidupnya, beliau tinggal dengan Hizan yang selama ini menjaganya. Tatkala beliau telah manula, datanglah adiknya yang tinggal di kota lain, untuk mengambil ibunya agar tinggal bersamanya, dengan alasan, fasilitas kesehatan dan lain-lain di kota jauh lebih lengkap daripada di desa.
Namun Hizan menaolak dengan alasan, selama ini ia mampu untuk menjaga ibunya. Perseteruan ini tidak berhenti sampai di sini, hingga berlanjut ke pengadilan!
Sidang demi sidang dilalui, hingga sang hakim pun meminta agar sang ibu dihadirkan di majelis.
Kedua bersaudara ini membopong ibunya yang sudah tua renta yang beratnya sudah tidak sampai 40 Kg!
Sang Hakim bertanya kepadanya, siapa yg lebih berhak tinggal bersamanya. Sang ibu memahami pertanyaan sang hakim, ia pun menjawab, sambil menunjuk ke Hizan, “Ini mata kananku!” kemudian menunjuk ke adiknya sambil berkata, “Ini mata kiriku!
Sang Hakim berpikir sejenak kemudian memutuskan hak kepada adik Hizan, berdasar kemaslahatan bagi si ibu!
Betapa mulia air mata yang dikucurkan oleh Hizan! Air mata penyesalan karena tidak bisa memelihara ibunya tatkala beliau telah menginjak usia lanjutnya! Dan, betapa terhormat dan agungnya sang ibu! yang diperebutkan oleh anak-anaknya hingga seperti ini!
Andaikata kita bisa memahami, bagaimana sang ibu mendidik kedua putranya hingga ia menjadi ratu dan mutiara termahal bagi anak-anaknya!
Ini adalah pelajaran mahal tentang berbakti, tatkala durhaka sudah menjadi budaya,
“Ya Allah, Tuhan kami! Anugerahkan kepada kami keridhoan ibu kami dan berilah kami kekuatan agar selalu bisa berbakti kepadanya!” Âmîn…



MR. INGGRIS VS MR. SHEIKH

Mr. Inggris bertanya: “Kenapa dalam Islam perempuan tidak boleh bersentuhan dengan sembarang pria?”
Mr. Sheikh menjawab: “Bisakah kamu berjabat tangan dengan ratu Elizabeth?
Mr. Inggris menjawab: “oh… tentu tidak bisa! cuma orang-orang tertentu saja yang bisa berjabat tangan dengan ratu.”
Mr. Sheikh tersenyum dan berkata: “Perempuan-perempuan kami (Kaum muslimin) adalah para ratu dan ratu tidak boleh bersentuhan dengan pria sembarangan (yang bukan mahramnya [orang yang haram dinikahi seperti ayah, saudara kandung] dan suaminya)
Mr. Inggris bertanya lagi: “Kenapa perempuan Islam menutupi tubuh dan rambut mereka?”
Mr. Sheikh tersenyum dan mengeluarka dua permen dari sakunya, ia membuka yang pertama terus yang satu lagi tertutup bungkus. Lalu dia melemparkan keduanya ke lantai.
Mr. Sheikh bertanya: “Jika saya meminta anda untuk mengambil satu permen, mana yang anda pilih?”
Mr. Inggris menjawab: “tentu saya mengambil yang tertutup…”
Mr. Sheikh berkata: ” Itulah cara kami memperlakukan dan melihat perempuan kami”
Mr. Inggris: ….. J!!! [bengong]


NASRANI VS MUSLIM

Nasrani: “Boleh bertanya? Mengapa Rasul anda menikahi 11 atau 12 orang perempuan? Ini menunjukkan bahwa ia adalah orang yang suka mengumbar nafsu (seks)?”
Muslim: “Pertama, tolong beritahu saya, orang yang menikah karena nafsu (seks) akan memilih gadis atau janda?”
Nasrani: “Ia akan memilih gadis.”
Muslim: “Perempuan pertama yang dinikahi Rasulullâh adalah Khadijah binti Khuwailid yang berstatus janda dan berusia 40 tahun.
Kedua, pada usia berapakah nafsu seksual meledak-ledak?”
Nasrani: “Kurang lebih mulai dari usia 16 tahun sampai 40 tahun, sebagai usia kesempurnaan bagi kejantanan dan kematangan akal.”
Muslim: “Rasul kami tidak menikah dengan perempuan lain setelah Khadijah, kecuali setelah usia beliau mencapai 50 tahun. Jadi, masalahnya adalah untuk kepentingan penetapan syari’at dan hikmah, bukan syahwat atau nafsu.”
Nasrani: “Baiklah…! Jika bukan syahwat, kenapa harus menikahi perempuan sebanyak itu, 11 atau 12 wanita? Kenapa tidak satu, dua atau empat?”
Muslim: “Kenapa anda mempermasalahkan Rasul kami? Sedangkan Rasul-rasul kalian tidak kalian permasalahkan juga? Bukankah anda beriman kepada Nabi Sulaiman? Padahal dalam kitab suci kalian disebutkan bahwa Nabi Sulaiman beristrikan 1000 orang wanita. (Disebutkan di dalam I Raja-Raja [11: 2 ,3] : “… Hati Solomo telah
terpaut kepada mereka dengan cinta. Ia mempunyai tujuh ratus istri dari kaum bangsawan dan tiga ratus gundik…”) . Begitu juga dengan Nabi kalian yaitu Rehabeam yang memiliki 78 istri. (Disebutkan dalam II Tawarikh: “Rehabeam mencintai Maakha, anak Absalom itu, lebih daripada semua istri dan gundiknya, ia mengambil delapan belas istri dan enam puluh gundik…”) . Maka bandingkanlah dengan jumlah istri dari Rasul kami yang hanya berjumlah 12 orang, mana yang terbanyak? Bagaimana anda mencela poligami Nabi kami dan mencacinya? Dan anda menganggap ini adalah aib dari kedudukan kenabian? Sementara kitab kalian sendiri telah menyebutkan poligami dari Nabi-nabi besar kalian, dan kalian menganggapnya wajar?
Nasrani: “Hmm… Lalu kenapa juga Rasul anda menikahi gadis dibawah umur, yaitu Aisyah yang dinikahi pada usia 6 atau 9 tahun? Bukankah itu adalah aib juga?”
Muslim: Bagaimana halnya dengan kehidupan kalian sendiri, yang mana perempuan-perempuan kalian telah banyak melakukan hubungan intim diluar nikah pada usia di bawah sepuluh tahun? Hal ini sudah diakui oleh berbagai media. Lantas kenapa anda mempermasalahkan Nabi kami yang menikahi wanita di bawah umur, sedangkan perempuan-perempuan kalian sendiri sangat banyak yang melakukan perzinahan dibawah umur?
Mana yang lebih aib?”
Nasrani: “Anggaplah perempaun-perempuan kami adalah oknum, jadi tidak bisa dijadikan landasan. Adapun Nabi anda adalah seorang yang suci dan mulia, tapi berbuat seperti itu? Lihatlah perbedaan usia yang sangat jauh tatkala Nabi anda menikahi Aisyah
yang baru berusia 6 tahun sedangkan Nabi anda berusia 50 tahun, selisih 44 tahun!!”
Muslim: “Apakah anda lupa atau tidak tahu terhadap sejarah Maria ‘Si perawan suci’? Pada usia berapa dia menikah di dalam sejarah kalian? Maria menikah dengan Yoseph ketika usia 12 tahun! Bukankah itu juga di bawah umur? Sedangkan Yoseph waktu itu sudah berusia 89 tahun (disebutkan dalam Ensiklopedi Katolik). Usia mereka selisih 77 tahun! Perbedaan yang sangat jauh sekali dibandingkan dengan Nabi kami.”
Nasrani: “Baiklah…! Kami menyerah pada anda dalam konteks Nabi anda, lalu mengapa anda (laki-laki Muslim) menikahi 4 orang perempuan? Ini adalah penghinaan bagi perempuan?”
Muslim: “Masyarakat Barat sekarang ini, seorang laki- laki menikahi satu orang perempaun saja, tetapi berhubungan intim secara ilegal (haram) atau selingkuh dengan sejumlah perempaun, baik teman maupun pacar gelap. Data statistik kontemporer di Barat
menunjukkan bahwa populasi perempaun lebih banyak daripada laki-laki. Hubungan intim yang dilakukan laki-laki membuat kaum perempaun hanya sebagai tempat pelampiasan nafsu saja. Lalu setelah si laki- laki menyalurkan libidonya, maka si perempuan menjadi tidak berharga lagi baginya. Penghinaan terhadap perempaun seperti apa yang lebih dahsyat dari itu? Sedangkan agama kami mengharuskan kami untuk memperlakukan semua istri secara ma’ruf (baik) dan memberikan hak-hak mereka secara adil. Selain itu, perempaun juga harus diposisikan sebagai bagian dari laki-laki, karena perempaun adalah rumahnya, tempat tinggalnya dan pakaiannya. Itu adalah ikatan yang kuat di mana perempaun dapat menemukan kehormatannya dan merealisasikan keperampuannya. Jadi, manakah yang lebih agung dan lebih mulia, wahai para dokter sekalian?”
Nasrani: “glek’terdiam kalah.


KISAH LUKMANUL HAKIM (ALLOHU "A'LAM)


Kita bisa mengambil hikmah dari kisah Lukmanul Hakim dengan anaknya. Bahwa kita tidak boleh berbuat karena mau disanjung orang banyak.

Kelengkapan kisahnya :

       Lukmanul Hakim mengadakan perjalan jauh dengan anaknya, Lukmanul Hakim berada di atas kuda kurus dan anaknya berjalan di bawah sambil memegangi tali kuda yang ditunggangi ayahnya dan lewat depan orang banyak, dan orang banyak itupun berkata : orang tua yang tidak berperasaan masa anaknya berjalan di bawah sedangkan ayahnya duduk di atas kuda seperti layaknya seorang raja sungguh tak berperasaan. Maka Lukmanul Hakim pun berkata kepada anaknya : nak kita di cemooh orang karena aku di atas kuda sedangkan kamu di bawah. Sekarang kita tukaran nak, kamu di atas aku di bawah. Maka Lukmanul Hakim yang berjalan di bawah dan anaknya berada di atas kuda. Tak berapa jauh ada sekumpulan orang berbicara : anak durhaka, masa dia di atas kuda sedangkan ayahnya berjalan di bawah. Maka Lukmanul Hakim berkata lagi ke anaknya : nak kita dicemooh lagi karena kamu di atas sedangkan aku ayahmu berjalan di bawah tidak di atas kuda, bagaimana kalo kita berdua berada di atas kuda dan tidak ada lagi yang berjalan kaki. Maka kedua-duanya menunggang kuda. Kuda berjalan terus Lukmanul Hakim dan anaknya lagi dan lagi melewati orang banyak yang bercakap-cakap : Mereka tidak berperasaan ya ? masa kuda kurus ditunggangi dua orang kasian ya kudanya.Lukmanul Hakim dan anaknya turun dari kuda karena merasa malu dicemooh orang-orang karena mereka berdua di atas kuda kurus. Lukmanul Hakim berkata pada anaknya mari kita berjalan berdua saja tidak usah kita tunggangi kuda ini. Sambil berjalan ada lagi sekumpulan orang-orang yang berkata : hahahaha, orang bodoh mereka, masa ada kuda tidak ditunggangi ? hahahah. Maka langkah terakhir Lukmanul Hakim dan anaknya akhirnya menggotong kuda itu. hahahhaha akhirnya tetap diketawai orang banyak : Masa kuda sehat digotong begitu, kaya' orang gila saja mereka.
       Kisah di atas mengandung hikmah bahwa : bagaimanapun  juga perbuatan itu pasti ada yang pro dan ada yang kontra, maka kerjakanlah kebenaran yang sesuai syariat Islam yang berdasar AL-Qur'an dan Hadits rasulullah saw walau banyak yang menghina acukan saja karena itu kebenaran pasti menang.




PILIHAN ALLAH ADALAH YANG TERBAIK


Al Khair Khairutullaah, Pilihan Allah adalah yang terbaik. Tak ada kesia-siaan dalam Allah menciptakan sesuatu untuk hamba-Nya, Terkadang seseorang tertimpa takdir yang menyakitkan yang tidak disukai oleh dirinya, kemudian dia tidak bersabar, merasa sedih dan mengira bahwa takdir tersebut adalah sebuah pukulan yang akan memusnahkan setiap harapan hidup dan cita-citanya. Akan tetapi, sering kali kita melihat dibalik keterputus-asaannya ternyata Allah memberikan kebaikan kepadanya dari arah yang tidak pernah ia sangka-sangka.

Sebaliknya, berapa banyak pula kita melihat seseorang yang berusaha dalam sesuatu yang kelihatannya baik, berjuang mati-matian untuk mendapatkannya, tetapi yang terjadi adalah kebalikan dari apa yang dia inginkan.

و عسى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وهُوَ خَيْرٌ لكَمْ وَعَسى أَنْ تُحِبُّوْا شَيْئا وهو شرٌّ لكم واللهُ يعلمُ وأَنْتُمْ لا تَعْلمُوْنَ

"Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."(QS. Al Baqarah: 216)

Mungkin cerita ini bisa jadi pembelajaran berharga bagi kita walaupun kebenaran cerita ini belum diketahui shahihnya namun kita bisa memetik pelajaran berharga dari cerita ini bahwa pilihan Allah adalah yang terbaik.

Suatu masa, ada seorang raja yang sangat menyayangi rakyatnya, setiap rakyatnya mendapat musibah dia selalu mengatakan Al Khair Khairutullah, pilihan Allah adalah yang terbaik, sehingga menjadi lapanglah hati rakyatnya mendengar hal ini.

Suatu hari sang raja mendapat musibah jari tangannya putus, lalu ia mengadu kepada salah seorang menteri kesayangannya, dan menteri tersebut mengatakan kepada raja hal yang biasa ia katakan pada rakyatnya, Al Khair Khairutullah, pilihan Allah adalah yang terbaik.

Mendengar hal ini sang raja murka dan memenjarakan perdana menteri tadi.
Suatu hari raja bersama pasukannya pergi berburu dan mereka tersesat jauh di dalam hutan dan tertangkap sekelompok penyembah roh. Satu persatu pasukan raja di sembelih untuk di persembahkan ke berhala penyembah roh tadi hingga tiba giliran raja mereka melihat jari raja yang terputus sehingga mereka tidak jadi menyembelih raja karena dianggap cacat. akhirnya raja selamat dan kembali ke istananya.
Raja segera membebaskan menteri yang ia penjarakan tadi dan berkata benar apa yang engkau bilang wahai menteri. Al Khair Khairutullah, pilihan Allah adalah yang terbaik, lalu ia menceritakan apa yang terjadi pada menteri tadi.
Dan sang raja bertanya pada menteri lalu apakah penjara bagimu adalah yang terbaik pilihan Allah? sang menteri menjawab benar wahai raja, Al Khair Khairutullah, pilihan Allah adalah yang terbaik.
Sang raja  bertanya  terus apakah hikmahnya bagimu wahai menteri?
Menteri menjawab seandainya saya tidak masuk penjara tentunya saya akan ikut bersama raja berburu dan tentunya saya sudah disembelih bersama pasukan lainnya. namun Allah menyelematkan saya dengan memasukkan saya ke penjara.





Wednesday, December 3, 2014

NASEHAT BUAT DIRI SENDIRI

Memang kadang aku tidak mau seriusi kehidupan ini karena aku sadar kehidupan akan berjalan di atas rel yang sudah digariskan oleh ALLAH SWT. Namun kadang ditengah belajar tidak serius terhadap dunia ini, namun sering diusik dengan perkataan orang lain yang kadang menarik keluar perhatian santai kepada keseriusan yang memang sadis menyiksa hati dan jiwa.

Jalankan saja apa yang mau dijalankan ! biarkan berjalan ! Usahakan yang mau diusahakan ! kalo ada hasil itulah ketentuan ALLAH SWT. Tapi kalo ada datang kegagalan sedikit jangan menimpakan kesal kepada seseorang yang seharusnya kegagalan itu harus diterima sebagai takdir hasil dari sebuah perjalanan hidup.

Bukankah berkeluh kesah itu adalah tanda ketidak syukuran menjalankan kehidupan yang memang harus dijalani dari ALLAH SWT.

Hidup sebagai muslim seharusnya punya dua sisi yang sangat cantik : 1. kalau dia mendapat kebahagiaan maka dia bersyukur, dan 2. kalau dia mendapat kesedihan maka dia bersabar itulah muslim yang kehendaki.

Perjalanan kehidupan 1 jam mendatang atau seterusnya tentang masa depan itu hanya milik ALLAH SWT, lalu mengapa hamba mau melampaui batas mengatur masa depannya yang mereka sendiri kadang belum sampai pada cita dan keinginannya sudah dipanggil SANG MAHA KUASA ALLAH SWT. 

Apakah ada orang yang mau menempuh jalan itu sekiranya sudah ditahu bahwa di sana ada kegagalan, penderitaan, kesedihan ? 

Kita pasti maklumi tentu tak ada orang yang mau gagal dalam hidupnya, tapi mengapa masih ada orang yang gagal dalam hidupnya ? jawabannya karena tak ada satupun orang yang tahu tentang takdir kehidupannya kedepan, kalau bisa kita katakan walau sedetikpun kehidupan kedepan takkan ada yang mengetahuinya selain ALLAH SWT.










Tuesday, August 26, 2014

SEKEDAR MASUKAN UNTUK KAUM HAWA!!!


Wahai para wanita…tahukah anda bahwa:
1.      Semakin banyak pandangan lelaki yang tergiur denganmu semakin bertumpuk pula dosa-dosamu.
2.      Semakin sang lelaki menghayalkanmu.. semakin berhasrat denganmu maka semakin bertumpuk pula dosa-dosamu.
3.      Janganlah anda menyangka senyumanmu yang kau tebarkan secara sembarangan tidak akan ada pertanggungjawabannya kelak.  
Bisa jadi senyumanmu sekejap menjadi bahan lamunan seorang lelaki yang tidak halal bagimu selama berhari-hari.., apalagi keelokan tubuhmu….
4.      Bayangkanlah… betapa bertumpuk dosa-dosa wanita yang terkenal dan penyanyi  yang aurotnya diumbar   di hadapan ribuan…bahkan jutaan para lelaki??
5.      Jika anda menjaga kecantikanmu dan kemolekan tubuhmu hanya untuk suamimu…maka anda kelak akan semakin cantik dan semakin molek di surga Allah…,
6.       Akan tetapi jika anda umbar kecantikanmu dan kemolekanmu maka ingatlah itu semua akan sirna dan akan lebur di dalam liang lahad menjadi santapan cacing dan ulat…dan di akhirat kelak…bisa jadi berubah menjadi bahan bakar neraka jahannam!!!

Monday, March 17, 2014

Kisah Malik bin Dinar Rah.a (Tabi'in)


“Dia seorang yang tsiqah dan sedikit bicara.“........(Ibnu Sa’ad)

Dialah Abu Yahya Malik bin Dinar. Sosok yang meninggalkan syahwat dunia. Penakluk jiwa ketika sedang bergejolak. Demikianlah Abu Nuaim memberikan sifat pada Malik bin Dinar dalam al-Hilyahnya.

Malik bin Dinar dilahirkan pada masa Ibnu Abbas R.a. Ia sempat bertemu dengan Anas bin Malik. Karenanya, ia diliputi berkah ilmu yang bermanfaat. Ia pun mengambil manfaat dari ulama shalih dari kalangan sahabat Nabi. Ia belajar akhlak suci dari mereka, adab dan sunah yang diridhoi Allah. Malik bin Dinar menjadi salah satu seorang pemimpin kaum muslimin yang ternama.

Ibnu Sa’ad berkata,”Dia seorang yang tsiqah dan sedikit bicara.”

Ibnu Hibban menambahkan dalam ats-Tsiqatnya,” Malik bin Dinar menulis Mushaf dan mendapatkan honor. Ia makan dari honor itu.”

Dialah imam zuhud. Terdepan dalam Wara’. Kezuhudannya menjadi perumpamaan. Mati kita renungi potongan kisah dari kehidupan ulama ini. Suatu ketika ia menemui Anas bin Malik R.a. Bersamanya ikut Tsabit dan Yazid ar-Raqasyi. Anas bin Malik memandang mereka dengan kagum, seraya berkata,”Betapa mirip kalian dengan para sahabat Rasulullah SAW. Sungguh kalian lebih aku cintai dari sekian anakku, kecuali mereka mempunyai keutamaan seperti kalian. Sungguh aku mendoakan kalian dimalam hari.”

Renungkanlah. Mereka didoakan oleh Abu Hamzah Anas bin Malik. Semata karena cinta pada Allah SWT. Apakah ada seseorang yang mencintai seperti Anas bin Malik kecuali orang-orang shalih dan ahli taat? Merekalah orang-orang yang benar bersama Allah dan Allah pun membenarkan mereka dengan kecintaan orang-orang shalih dan ahli ibadah.

Betapa tinggi kedudukan mereka! Suatu ketika ia membaca firman Allah SWT:
لَوْ أَنزَلْنَا هَذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَّرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللَّه
Artinya: “Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quraan ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah.”(QS.al-Hasyr:21)
Malik bin Dinar berkata,”Aku bersumpah pada kalian, tidak beriman seorang hamba dengan al-Qur’an kecuali hatinya terpecah.”

Abdul Aziz bin Salman menuturkan,”Aku dan Abdul Wahid bin Zaid menemui Malik bin Dinar. Kami dapati dia berdiri dari majelisnya, lalu masuk kerumahnya. Kemudian dia menutup pintu kamar. Kami duduk menunggunya hingga keluar atau mendengar darinya suatu gerakan. Kami kemudian minta izin. Malik bin Dinar seperti mengucapkan sesuatu yang tidak bisa dipahami, lalu terdengar dia menangis. Sampai-sampai kami merasa kasihan mendengar tangisannya. Kemudian tubuhnya bergetar, bernafas lalu pingsan.”

Abdul Wahid berkata,”Kita pergi. Kita tidak ada urusan hari ini dengan laki-laki ini. Dia sibuk dengan dirinya sendiri.”

Pada kesempatan lain ia memasuki kawasan pekuburan. Tiba-tiba ada seseorang yang sedang dikubur. Malik datang dan berdiri disamping kuburan sambil memperhatikan orang yang dikubur. Malik bin Dinar mulai berkata, ”Wahai Malik, besok beginilah keadaanmu. Tidak ada seseorang pun yang bisa menolongmu dikuburan.“

Malik bin Dinar terus berkata,“ besok beginilah keadaanmu.“ Hingga ia pingsan dan tersungkur dilubang kubur. Orang-orang pun segera membawanya kerumah dalam keadaan tak sadarkan diri.

Malik bin Dinar selalu mengulang-ngulang,“Wahai Tuhannya Malik!Engkau telah mengetahui penghuni surga dan penghuni neraka. Maka, dimanakah tempat malik?“kemudian Malik bin Dinar menangis!

Renungkan bagaimana ia menggambarkan keadaan seorang hamba di hari Kiamat ketika ia meninggalkan dunia ini.

Suatu ketika ia naik kapal. Saat kapal itu berada disebuah jembatan, diserukan agar awaknya tidak keluar dan berdiri dari tempatnya.

Malik bin Dinar malah keluar, mengambil pakaiannya dan memanggulnya lalu melompat dari kapal dan berdiri diatas tanah.“Apa yang membuatmu keluar?seru juru mudi.

”Tidak ada apa-apa!Jawab Malik.
“Pergi!” ujar juru kemudi lagi.
Malik berkata dalam hati,”beginilah akhirat.”

Betapa indah perumpamaan ini!Tidak mungkin dimengerti kecuali oleh hati yang suci, bersih seperti putihnya susu.

Beginilah Malik selalu mengevaluasi dirinya.. Tak ada temapat dihatinya kecuali zikir kepada Allah dan ketakutan yang selalu melekat disekujur anggota tubuhnya.

Suatu ketika, Harits bin Nabhan memberinya hadiah sebuah bejana yang terbuat dari kulit. Bejana itu berada ditempat Malik bin Dinar beberapa saat. Ketika Harits datang, Malik segera memanggilnya,”Wahai Harits, kemarilah!Ambil bejanamu!Dia telah membuat hatiku sibuk. Setiap kali aku memasuki masjid, syetan datang dan berkata,”Wahai Malik, bejanamu telah dicuri.”Dia telah membuat sibuk hatiku.”

Sungguh! Malik tak ingin ada yang mengusik hatinya kecuali takut pada Allah. Alangkah bahagianya pemilik hati ini!

Simaklah keluhannya suatu saat,”Aku berharap Allah mengizinkan ketika aku berada dalam genggaman TanganNya kelak aku sujud sekali saja. Sehingga aku tahu bahwa Dia telah ridha. Lalu Dia berkata kepadaku,”Wahai Malik jadilah debu.”

Sungguh ketakutan pada Allah telah memenuhi hati orang-orang yang bertakwa. Maka ia pun mendekat padaNya dan jauh dari godaan makhluk.

Ada seorang laki-laki terkaya di Bashrah. Ia mempunyai seorang putri yang teramat cantik. Suatu saat sang Ayah berkata,”Keturunan Hasyim pernah melamar padamu, dari bangsa arab!Tapi engkau menolak. Kukira engkau menginginkan Malik bin Dinar dan sahabatnya?”

”Demi Allah, itulah cita-citaku,”jawab sang putri.

Sang ayah berkata pada salah seorang saudaranya,”Temui Malik. Kabarkan tentang kedudukan putriku dan keinginannya!”

Ketika bertemu Malik, utusan ayah gadis itu berkata,”seseorang menyampaikan salam untukmu. Dia berpesan,’Sungguh engkau mengetahui bahwa aku orang paling kaya dikota ini. Aku punya seorang putri cantik yang ingin menikah denganmu. Apa pendapatmu?”

Malik menjawab,”Sungguh aneh. Apakah engkau tidak tahu bahwa aku telah menceraikan dunia dengan talak tiga!” Malik bin Dinar telah menceraikan dunia sehingga ia tidak peduli dengan apa-apa yang hilang dari dunianya.

Saat lain, Malik tertarik untuk memakan roti campur susu. Seorang temannya datang membawakan makanan yang dimaksud. Sejenak Malik membolak-balikkan roti itu lalu berkata,”Aku merindukanmu selama 40 tahun. Dan aku berhasil mengalahkan keinginanku itu. Hari ini engkau ingin mengalahkanku?pergi dari sisiku!” Malik tak mau memakannya.

Malik bin Dinar tak hanya zuhud dalam hal makanan. Kediamannya pun sangat sederhana. Dirumahnya tak ada apa pun kecuali Mushaf dan pakaiannya. Tentang rumahnya ini dia berkata,” Siapa yang masuk ke rumahku lalu mengambil sesuatu, maka itu halal baginya. Saya tak butuh gembok atau kunci.”

Suatu saat, seorang pencuri masuk ke rumahnya. Namun ia tidak menemukan sesuatu pun. Malik berkata,”wahai pencuri, engkau tidak menemukan apa-apa dari harta dunia. Apakah engkau ingin bagian dari akhirat?”

”Ya!” jawab pencuri.

”Berwudhulah dan shalat dua rakaat.”

Pencuri itupun melakukannya. Ia pun pergi ke masjid bersama Malik bin Dinar. Ketika Malik di tanya tentang orang yang bersamanya, ia menjawab,”Dia datang untuk mencuri. Maka dia yang kami curi.”

Suatu ketika, gubernur bashrah lewat bersama rombongan dan tentaranya. Malik berseru,”Paling sedikit dari perjalananmu ini.”Para pembantu gubernur marah dan mengancam Malik. Namun sang gubernur buru-buru mencegah, lalu berkata pada Malik,”Apakah engkau tidak mengenalku?”

“Siapa yang lebih tahu tentang dirimu daripada aku?Awalmu dari tetsan mani yang jijik. Akhirmu adalah jenazah yang hina. Sekarang engkau berada di antara dua kondisi itu membawa kotoran.”

Sang gubernur menundukan wajahnya lalu pergi sembari berkata,”Sekarang, sungguh engkau telah mengetahui siapa diriku.”

Begitulah kehidupan Malik bin Dinar. Seorang zuhud dalam segala hal. Berani pada semua makhluk dan hanya takut pada Allah.

Ia meninggal dunia sebelum wabah Tha’un (kolera) melanda Bashrah. Wabah itu melanda pada tahun 131 Hijriyah. Semoga kita bisa mengikuti jejaknya.....Amien

Sumber:
Shuwar min Siyar at-Tabi’in, karya Azhari Ahmad Mahmud
Siyar A’lam at Tabi’in, karya Shabri bin Salamah Syahin

Kisah Malik bin Dinar : Hamba Wanita Cantik dan Hartawan Sombong

Suatu ketika, Malik bin Dinar rah.a sedang berjalan di daerah Basrah. Ia melihat seorang hamba wanita dengan pakaian gemerlap berjalan dengan pembantunya dengan penuh angkuh dan gaya, berlagak bagaikan hamba wanita milik para raja. Melihat hal itu, Malik rah.a berteriak kepadanya, “Hai gadis kecil! Apakah tuanmu mau menjualmu?” Hamba wanita itu sangat terkejut atas pertanyaan Malik rah.a.
Ia berkata dengan tersinggung, “Orang tua, coba kau ulangi kata-katamu itu.”

Malik rah.a berkata, “Kukatakan, apakah tuanmu mau menjualmu?”

Gadis itu berkata, “Seandainya ia menjualku, dapatkah seorang miskin sepertimu membayar hargaku?”

Malik rah.a berkata, “Tentu, bahkan aku dapat membeli seorang hamba wanita yang lebih cantik darimu.”

Mendengar perkataan ini ia tertawa dan mengatakan pada pelayan-pelayannya untuk memegang Syaikh dan membawanya menyertai mereka.

Demikianlah Malik rah.a dibawa oleh mereka ke rumah mereka. Setibanya di rumah, hamba itu menceritakan kepada tuannya semua yang terjadi antara dirinya dengan Syaikh. Tuannya tertawa terbahak-bahak dan meminta agar laki-laki miskin itu dibawa kehadapannya. Begitu Malik rah.a muncul dihadapannya, orang kaya itu diserang oleh rasa kagum, tiba-tiba ia bertanya kepada Syaikh, Apa yang kamu inginkan?”

Syaikh menjawab, “Aku ingin membeli hamba wanitamu.”

Orang kaya itu berkata, “Dapatkah kamu membayar harganya?”

Syaikh berkata, “Menurut perkiraanku harganya senilai dua biji kurma.”

Mendengar ini, semua yang hadir tertawa. Orang kaya itu berkata, “Atas dasar apa kamu menentukan harga itu bagi wanita ini?”

yaikh menjawab, “Jika hamba wanitamu tidak memakai wewangian, maka tubuhnya akan mengeluarkan bau yang menjijikan, jika ia tidak meminyaki atau menyisir rambutnya, ia akan Nampak kusut, rambutnya akan menjadi jelek dan bau busuk. Dalam waktu beberapa tahun lagi kemudaannya akan hilang dan semua daya tariknya akan luntur, ia mengalami menstruasi, mengeluarkan air seni, kotoran kecil maupun besar dan semua mengeluarkan kotoran dari tubuhnya. Ia suka murung ketika menderita kemalangan. Ia sangat mementingkan dirinya sendiri dan berpura-pura mencintaimu, walaupun sebenarnya yang ia cintai adalah kesenangan dan kenyamanan hidup yang dinikmatinya bersamamu. Dan yang paling tidak tetap adalah; ia tidak tulus dalam cintanya dan berkhianat, tidak setiakepada perkataannya sendiri dan palsu dalam pernyataan cintanya. Jika engkau menyuruhnya pergi atau engkau meninggal lebih dahulu , ia akan pergi kepada laki-laki lain dan disana ia juga menyatakan bahwa ia mencintainya dengan penuh gairah.

Akupun mempunyai seorang hamba wanita, yang jauh melampaui hambamu dalam hal kecantikannya, dan lebih mudahdimiliki. Ia telah diciptakan dari inti sari camphor dicampur dengan kasturi dan saffron. Ia dipakaikan pakaian dari nur yang indah dan memakai pakaian mutiara.Jika ia berbicara kepada seseorang yang telah meninggal, maka orang itu akan hidup kembali. Jika ia membuka pergelangan tangannya di dunia ini, matahari akan Nampak redup dibandingkan dengannya. Jika ia memasuki ruangan gelap, ia akan meneranginya dengan kehadirannya. Jika ia dating ke dunia ini dengan semua kecantikan dan perhiasannya, ia akan memenuhinya dengan keharuman dan sinar yang sangat terang. Ia telah dipelihara dan diasuh di dalam taman kesturi dan saffron. Ia bermain dan berayun-ayun di dahan yang terbuat dari rubi merah dan batu marjan. Tinggal di istana-istana, dikelilingi oleh semua tata karma penuh rahmat. Ia diberi minum dariair Tasniim (sebuah sungai di surga). Ia tidak pernah memungkiri janji, tidak pernah mengkhianati orang yang dicintainya atau mengubah kesetiannya.”

Demikianlah, setelah menceritakan beberapa sifat-sifat bidadari surga, Syaikhbertanya, “Sekarang katakana kepadaku,manakah diantara kedua gadis itu yang patut untuk diinginkan?”

Semua orang yang berkumpul di sana berkata, dengan satu suara, “Tentu saja gadis yang baru saja engkau gambarkan yang sebaiknya setiap orang mencoba untuk memilikinya.”

Syaikh berkata, “Gadis cantik ini dapat dimiliki hanya dengan harga yang setiap orang mampu membayarnya dan dalam setiap keadaan.”

Ketika ditanya berapa harganya, Malik rah.a berkata, “Seorang gadis dengan kebaikan dan keunggulan seperti itu dapat dimiliki sebagai balasan atas perbuatan-perbuatan baik walaupun kecil seperti: mengambil sedikit waktu pada malam hariuntuk berdiri dalam ketaatan, mengerjakan setidak-tidaknya dua rakaat shalat Tahajjud dengan niat yang murni yaitu mencari ridha-Nya. Bila engkau duduk untuk makan, ingatlah juga orang-orang miskin (ajaklah mereka menikmati makananmu), jadikanlah keinginanmu tunduk kepada yang diingiankan Allah. Singkirkanlah dari jalanmu segala sesuatu yang dapat membahayakan orang-orang yang berlalu di sana, jalani kehidupan dengan sederhana. Merasa cukup dengan pemberian Allah, alihkan perhatianmu daridunia ini, yang tidak lain adalah tempat penipuan dan pusatkan sepenuh hati ke tempat tinggal abadi; yaitu akhirat. Jika kamu bersungguh-sungguh dalam perbuatan-perbuatan baik ini, kamu tidak saja hidup terhormat di dunia, tetapi juga tidak akan mengalami kegelisahan di akhirat dan akan dibangkitkan dengan kedudukan yang terhormat dan tinggi, tinggal selama-lamanya di jannah di dalam lingkuangan yang diberkahi Allah SWT, Raja segala Raja.

Mendengar semua ini, orang kaya itu berkata kepada hamba wanitanya, “Apakah engkau mendengar apa yang dikatakan Syaikh?”

Hamba wanita itu berkata, “Ia telah mengatakan kebenaran, mengingatkan kita kepada keyakinan yang benar dan memberikan nasehat yang baik kepada kita.”

Orang kaya itu berkata, “Kalau begitu, aku memerdekakanmu dan kuberikan kepadamu sejumlah harta sebagai hadiahku.” Ia juga memerdekakan semuahamba-hambanya dan menghadiahi mereka masing-masing sejumlah harta yang cukup banyak, dan menyedekahkan rumahnya dan semua yang ada di dalamnya di jalan Allah. Ia membuka pakaiannya yang mahal, dan membalut tubuhnya dengan kain kasar, kain tirai kasar yang disobeknya dari pintu rumahnya.

Hamba wanita itu berkata, “Tuanku, akupun akan mengikuti cara hidupmu, karena bagiku tidak ada lagi daya tarik di dalam kenikmatan kehidupan dunia ini.” Kemudian ia pun menyedekahkan semua pakaiannya, perhiasan-perhiasan dan barang-barang berharga dan juga perabot-perabot rumah tangganya. Ia memakai pakaian dari bahan kasar dan menjalani kehidupan yang sangat sederhana bersama tuannya.
Malik rah.a meninggalkan mereka dan mendoakan keberkahan Allah atas kedua orang itu, majikan dan hamba wanitanya yang telah melepaskan kesenangan hidup mereka, meninggalkan kemewahan-kemewahan duniawi dan mengabdikan hidup untuk beribadah kepada Allah SWT, tekun dalam ketaatan hingga akhir hayat mereka. Semoga Allah SWT memberkahi mereka dengan ampunan dan memberkahikita juga, bersama mereka.

... KISAH PERTAUBATAN MALIK BIN DINAR ...

31 Mei 2011 pukul 8:12
Bismillahir-Rahmanir-Rahim ...
Saat muda kehidupan Malik bin Dinar selalu di isi dengan dosa, mabuk-mabukan, maksiat, berbuat berbuat onar, memakan hak hak orang lain, dan memakan riba, tidak ada satu maksiatpun yang tidak dilakukannya. Ia sungguh sangatlah jahat hingga manusia lain pun tida...k menghargai karena kejahatannya.
Pada suatu waktu Malik Bin Dinar merindukan untuk menikah dan memiliki keluarga, maka menikahlah ia dan di karuniakan seorang anak yang cantik bernama Fatimah.

Dia sangat mencintai putrinya Fathimah. Suatu ketika anak yang di cintainya melihat Malik Bin Dinar sedang mabuk dan memegang segelas minuman keras, maka Fathimah pun mendekat dan menyingkirkan gelas tersebut hingga tumpah mengenai baju. Fatimah tidak tega melihat ayahnya melakukan hal seperti itu karena dia sangat mencintai ayahnya, saat itu umur Fathimah belum genap dua tahun. Saat genap tiga tahun Fathimah meninggal dunia.
Kini Malik Bin Dinar semakin menjadi setelah kehilangan anak yang di cintainya, dan dia selalu mabuk sepanjang malam, dia pertekat akan mabuk sepuasnya hingga tak sadarkan diri dan bermimpi.

Di alam mimpi tersebut Dia melihat hari kiamat.

Matahari telah gelap, lautan telah berubah menjadi api, dan bumipun telah bergoncang. Manusia berkumpul pada hari kiamat. Manusia dalam keadaan berkelompok - kelompok. Sementara Dia merasa berada di antara manusia lain, mendengar seorang penyeru memanggil: Hai…! Mari menghadap al-Jabbar. Malik Bin Dinar melihat orang yang memanggilnya, dan Orang itu berubah wajahnya menjadi sangat hitam karena sangat ketakutan.

Kemudian hilanglah seluruh manusia seakan-akan tidak ada seorangpun di padang Mahsyar. Kemudian Malik Bin Dinar melihat seekor ulat besar yang ganas lagi kuat merayap mengejarnya dengan membuka mulut. Dia pun lari ketakutan. Lalu dia mendekati seorang laki-laki tua yang lemah. Diapun berkata: “Hai, selamatkanlah aku dari ular ini!” Laki-Laki Tua Itu menjawab: “Wahai anakku aku lemah, aku tak mampu, akan tetapi larilah kearah sana mudah-mudahan engkau selamat!”

Malik Bin Dinar pun berlari kearah yang ditunjukkannya, sementara ular tersebut berada di belakangnya. Tiba-tiba Dia mendapati api dihadapannya. Diapun berkata: “Apakah aku melarikan diri dari seekor ular untuk menjatuhkan diri ke dalam api?” Diapun kembali berlari dengan cepat sementara ular tersebut semakin dekat. Dia kembali kepada lelaki tua yang lemah tersebut dan berkata: “Demi Allah, wajib atasmu menolong dan menyelamatkan ku.” Maka dia menangis Orang tua itu seraya berkata: “Aku lemah sebagaimana engkau lihat, aku tidak mampu melakukan sesuatupun, akan tetapi larilah kearah gunung tersebut mudah-mudahan engkau selamat ! ”

Malik Bin DInarpun berlari menuju gunung tersebut Sementara ular dibelakangnya terus mengejarnya. Kemudian Dia melihat di atas gunung terdapat anak-anak kecil, dan mendengar semua anak tersebut berteriak: “ Wahai Fathimah tolonglah ayahmu, tolonglah ayahmu !”

Diapun teringat dan sangat berbahagia bahwa dia mempunyai seorang putri yang telah meninggal pada usia tiga tahun yang akan menyelamatkannya . Maka Fatimahpun memegang Malik Bin Dinar dengan tangan kanannya, dan mengusir ular dengan tangan kirinya sementara Malik Bin Dinar sangat ketakutan. Lalu Fatimah kecil duduk di pangkuan Malik Bin Dinar sebagaimana dulu dia di pangku ayahnya saat di dunia.

Fatimah berkata : “Wahai Ayah “ Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah” (QS. Al-Hadid:16)

Malik Bin Dinar berkata : “ Wahai putriku, beritahu kepadaku tentang ular itu.”

Fatimah kecil berkata: “Itu adalah amal keburukan, engkau telah membesarkan dan menumbuhkannya hingga hampir memakan mu. Tidakkah engkau tahu wahai ayah, bahwa amal-amal di dunia akan dirupakan menjadi sesosok bentuk pada hari kiamat? Dan lelaki yang lemah tersebut adalah amal shalih mu, engkau telah melemahkannya hingga dia menangis karena kondisimu dan tidak mampu melakukan sesuatu untuk membantu kondisi mu. Seandainya saja engkau tidak melahirkan ku, dan seandainya saja tidak mati saat masih kecil, tidak akan ada yang bisa memberikan manfaat kepada mu.”

Malik Bin Dinarpun terbangun dari tidurnya dan berteriak: “Wahai Rabbku, sudah saatnya wahai Rabbku, “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah.” Lantas Dia mandi dan keluar untuk shalat subuh dan ingin segera bertaubat dan kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Malik Bin Dinar selalu berdoa dan selalu menangis sepanjang malam dan berkata: “Ya Ilahi, hanya Engkaulah satu-satunya Dzat Yang Mengetahui penghuni sorga dan penghuni neraka, maka yang manakah aku di antara keduanya? Ya Allah, jadikanlah aku termasuk penghuni sorga dan jangan jadikan aku termasuk penghuni neraka.”

Malik bin Dinar Rohimahullah wafat pada tahun 130 H. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala merahmatinya dengan rahmat-Nya yang luas. (Misanul I'tidal, III/426).

Semuga Cerita di atas menjadi renungan bagi kita semua....